Warga Tanah Bara Tanam Sawit di Jalan

Serambi,13-04-2010
SINGKIL
– Warga Tanah Bara, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil, Senin (12/4) menanam pohon kelapa sawit di tengah jalan menuju perkampungan mereka. Warga kesal karena jalan desa tersebut tidak kunjung diaspal, padahal setiap turun hujan badan jalan mirip kubangan kerbau.

“Kami lakukan karena kesal jalan ke desa lain sudah diaspal, tapi jalan ke desa kami belum diaspal. Bayangkan saja anak-anak yang mau pergi ngaji ke desa tetangga, sering terjatuh di sini,”kata Irwan Limbong warga Tanah Bara.

Sekitar 25 KK yang harus melelawti jalan desa tersebut, pantas merasa iri, pasalnya diantara desa di Kecamatan Gunung Meriah, rata-rata sudah diaspal kecuali Tanah Bara. Struktur tanah berupa tanah liat berwarna merah sangat becak ketika musim hujan.

Jalan Desa Tanah Bara lebar sekitar 2,5 meter dengan panjang sekitar 1 Km, selain merupakan jalan desa, juga merupakan jalan utama akses ke beberapa desa lainnya. Penanaman pohon kelapa sawit menurut warga, melambangkan ambang kesabaran mereka telah habis. Alasanya sawit merupakan tanaman primadona di Aceh Singkil.(c39)



Mengembalikan Sawah yang Hilang

Serambi.
10/04/2010

TAHUN-80-an, Riwansyah warga Sianjo Meriah, Aceh Singkil, ingat betul 100 meter di belakang perkampungannya, berderet ratusan pematang sawah tempat leluhurnya mencari nafkah. Sayang dua dasawarsa sudah, pemandangan itu hilang, berganti ilalang. Beruntung dua bulan belakangan kesadara datang, hampir seisi kampung Sinjo Meriah, turun menggarap sawah. Tidak kurang dari 20 hektar, hamparan sawah yang kini sedang menghijau berhasil dibuka warga yang tergabung dalam kelompok tani Tunas Harapan, binaan Dinas Pertanian serta Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Aceh Singkil.

“Pertanian telah terlupakan, sejarah mencatat daerah ini dulunya sawah, mari kita kembalikan. Ada kerinduaan yang hilang terhadap pertanian,” kata Bupati Aceh Singkil, Makmursyah Putra, Rabu sore itu, saat kenduri opom (doa tolak bala agar sawah tidak diserang hama-red). Warga Aceh Singkil, termasuk Sinjo Meriah, kala itu memilih meninggalkan sawah, terpesona dengan menggantungkan hidup merambah hutan, hingga dipaksa berhenti karena dilarang undang-undang. Butuh waktu lama, apalagi, konflik dan guncangan gempa sempat membuat rakyat jera, ditambah pesona kelapa sawit menyeret alihfungsi lahan pertanian ke perkebunan kelapa sawit.

“Pembukaan kelapa sawit hanya menambah penggangguran, bayangkan lima hektar lahan dikuasai satu orang. Sementara kalau pertanian, sehektar saja bisa menyerap dua, tiga keluarga. Indah sekali dalam waktu tidak terlalu lama lagi kita lihat dari ujung-keujung tidak hanya kebun sawit, tapi ada sawah, jagung dan komoditas pertanian lainnya. Kita jadikan sawah yang telah menghijau ini contoh bagi desa lain,” ujar Makmur membujuk. Tak ingin dicap hanya tanam perdana, panen perdana sekaligus yang terkhir, Riwansyah sebagai ketua kelompok bagi 48 petani Sinjo Meriah mengatakan, pemda harus mendukung petani sampai mendiri. Memfasilitasi pinjam pakai lahan yang kini digarap, mengingat bukan milik mereka. Kemudian fasilitas, bibit, pupuk, saprodi, obat-obatan dan irigasi tersedia.

“Kalau irigasi sudah berjalan, insallah jalan terus. Kesungguhan kita juga dibuktikan dengan gelaran kenduri adat opom,” ucapnya. Kuwatno Kabid Produksi didampingi Hendara PPTK Dinas Pertanian Aceh Singkil mengatakan, pihanknya sangat bersykur sebagian kecil petani mau kembali turun ke sawah. Mengenai keinginan petani dipastikan, dalam tahun ini terpenuhi melalui program optimasi lahan seluas 600 ha, khusus di bawah ambong Sianjo Meriah melalui dana otsus. “Program dan keinginan petani akan berlanjut. Perlu kesabaran dalam membina petani, bersyukur ini sudah menunjukan hasil,” kata Hendra.(dede rosadi)



RSUD Singkil Hanya Miliki Dua Dokter Spesialis

m.serambinews.com
10/04/2010
SINGKIL – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Singkil, di Gunung Lagan, Kecamatan Gunung Meriah, saat ini hanya memiliki dua dokter specialis. Sebelumnya rumah sakit tipe C itu dilaporkan memiliki empat dokter specialis. Direktur RSUD Aceh Singkil, Nasrul, melalui Kasie Informasi M Raja yang dikonfirmasi Serambi, Jumat (9/4) menyebutkan sebelumnnya ada empat dokter specialis di rumah sakit tersebut. Namun, belakangan dua dokter yakni specialis penyakit dalam, dr Sri Nilam Nasution SpPd

dan specialis bedah dr Hardy Hasibuan SpB, tidak mau lagi kontrak kerjanya dengan rumah sakit itu diperpanjang, tanpa ada alasan yang jelas. Akibatnya, kini hanya tersisa dua dokter specialis di rumah sakit tersebut yaitu, dr Rusnaidi Umar SpOg (ahli kandungan), dan dr Zuhrawardy Pasi SpA (specialis anak).

“Alasan kedua dokter yang tak mau lagi kontrak kerjanya diperpanjang sangat lemah, yaitu karena mereka ingin fokus pada masalah keluarga. Kita telah coba membujuknya, tapi mereka tetap tidak mau lagi bertugas,” kata Raja. Katanya, pihak rumah sakit kini sedang berusaha mencari dokter spesialis pengganti, diperkirakan Mei mendatang sudah ada. “Pak Direktur yang lebih tahu, pasti beliau sedang mencari. Delegasi untuk mencari juga sudah dikirim, kalau tidak dapat di daerah ini pak direktur akan mencari sampai ke Jawa sana,” ujarnya. Tidak adanya dokter spesialis menyebabkan pelayanan di rumah sakit tersebut menurun dan berdampak negatif bagi daerah.

Selain krisis dokter spesialis, dua laboratorim (Labor) di RSUD Aceh Singkil dilaporkan tidak berfungsi, yaitu labor analisis kimia dan gula darah. Menurut M Raja, tak berfungsinya kedua labor tersebut, karena peralatan yang ada telah rusak. “Lab analisis kimia dan gula rusak, sehingga data yang dihasilkan tidak akurat. Pemkab Aceh Singkil, tahun ini telah meningkatkan tunjangan insentif untuk dokter spesialis dari Rp 15 juta perbulan menjadi Rp 20 juta/bulan. Warga berharap, krisis dokter spesialis dan permasalahan lainnya di RSUD Aceh Singkil segera teratasi.(c39)


Guru dan Warga Perbaiki Bangku Sekolah

SINGKIL – Guru dan para orang tua murid Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Aceh Singkil, Selasa kemarin gotong royong membersihkan lingkungan sekolah dan memperbaiki kursi serta meja yang rusak. Kegitan yang digagas komite sekolah itu dilakukan sebagai salah satu persiapan menjelang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tingakat SMP sederajat Mei mendatang.

Kepala MTsN Singkil, Abdul Nani mengatakan, gotong royong ini merupakan hasil musyawarah sekolah bersama komite sekolah. “MTsN Singkil didirikan sejak 1983 telah banyak perubahan, tetapi dalam peralatan dan gedung sekolah perlu pembenahan,”katanya.

Salah satu wali murid Ridwan Hasan, yang juga Sekda Aceh Singkil, ikut dalam gotong royong tersebut mengatakan, terobosan ini merupakan wujud partisipasi sekolah dan para wali murid dibawah komite sekolah yang patut dipertahankan. Bahkan, katanya, kalau bisa menjadi contoh bagi sekolah lain sebagai wujud kepedulian masyarakat pada dunia pendidikan.

Mulizar SPd guru MTsN Singkil mengatakan, kegiatan gotong royong meliputi, membersihkan lingkungan sekolah dan merenovasi kursi dan meja yang sudah patah. Disebutkan pasca biaya sekolah gratis, kepedulian orang tua dan masyarakat terhadap sekolah menurun. Kecenderunganya orang tua siswa tidak peduli dengan anaknya yang sudah dimasukkan di salah satu sekolah.(c39)


Aksi Pembalakan Liar Marak di Pulau Banyak

SINGKIL – Aksi pembalakan liar dilaporkan kembali marak di Kecamatan Pulau Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, tepatnya di Desa Haloban dalam kawasan hutan Air Dingin tempat sumber air tawar bagi warga setempat. Jika pembabatan hutan itu dibiarkan dikhawatirkan satu-satunya sumber mata air tawar itu kering.

“Informasi yang Saya terima dari orang PU yang survei ke sana memang ada, tapi saya belum mengecek titiknya sebelah mana,” kata Kepala Desa Haloban, Azwar yang dihubungi Serambi, Rabu (24/3) dari Rimo, Gunung Meriah.

Azwar Tanjung warga setempat menyebutkan, aksi ilegal itu berjalan mulus dan rapi. Mencuat ke permukaan ketika kepergok petugas dinas Pekerjaan Umum yang melakukan survai sumber air. “Warga berharap aksi pembalakan liar bisa dihentikan oleh aparat terkait mengingat lokasi yang dibabat oleh pelaku terletak di sumber air yang sangat vital,” ujarnya.

Kepala Desa Haloban Azwar menambahkan, sepengetahuannya kayu yang diambil digunakan warga sebagai bahan baku membuat perahu dan bangunan lainnya. Sementara kalau dijual ke luar belum pernah ia dengar.

Di sisi lain, Azwar menyesalkan belum jelasnya tapal batas kawasan hutan konservasi di Pulau Banyak. Kondisi itu menyulitkan warga membedakan mana hutan yang boleh dimanfaatkan dengan yang tidak. “Tolong kepada petugas agar dibuat tapal batas kawasan konservasi. Agar masyarakat tahu, jangan sampai asal masuk kehutan dilarang karena disebut kawasan konservasi sedangkan batasnya aja tidak jelas,” katanya.(c39)



Aceh Singkil Butuh Dua PKS Baru

SINGKIL – Kabupaten Aceh Singkil membutuhkan tambahan dua Pabrik Kelapa Sawit (PKS) baru agar bisa menampung semua hasil produksi kelapa sawit rakyat. Pembangunan PKS baru tersebut sekaligus meningkatkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit milik rakyat yang selama ini dibeli murah oleh PKS dengan harga cukup murah.

Kebutuhan tambahan dua PKS ini berdasarkan produksi kelapa sawit kebun petani mencapai 650 sampai 700 ton per hari tahun 2009. Sementara kapasitas pabrik hanya bisa menampung 600 ton per hari. Produksi kelapa sawit rakyat tahun 2010 diprediksi bertambah dua kali lipat karena terdapat 7.000 hektare kebun sawit yang kini tinggal menunggu panen.

“Kalau berdasarkan asumsi hasil kelapa sawit rakyat, kita butuh satu sampai dua pabrik lagi,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Singkil, Momod Suhara, menjawab Serambi Selasa (23/3).

Luas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil mencapai 17.000 hektare pada tahun 2009. Telah menghasilkan 10.000 hektare, dengan produksi 650 sampai 700 ton per hari, sisanya 7.000 hektare diperkirakan tahun 2010 ini mulai dipanen petani. Perkebunan kelapa sawit rakyat juga terus bertambah, seiring kebijakan bantun bibit sawit kepada petani dari pemerintah Aceh. Belum ditambah keinginan kuat masyarakat sendiri yang telah menjadikan perkebunan sawit sebagai primadona dan tumpuan dalam mencari nafkah.

Polemik
Rencana pembangunan PKS telah digagas Pemda Aceh Singkil, dengan mendatangkan sejumlah investor dalam maupun luar negeri. Tinggal menentukan lokasi yang cocok. Sayangnya ide pembangunan dan pengelolan PKS oleh swasta menuai keritik. Pengkeritik menilai jika diserahkan pada swasta, maka tidak ada bedanya dengan empat PKS yang sudah ada, kecenderungannya mencari untung sebanyak-banyaknya dan tidak menguntungkan petani sawit.

Sedangkan kalau dibentuk badan usaha milik daerah (BUMD), sejarah mencatat tidak pernah ada yang beruntung. Dibangun melalui APBK nilainya sangat besar Rp 30 milyar lebih, belum lagi benturan konflik kepentingan dalam pembahasan anggaran.(c39)



Berkas Perkara Penggelapan Uang Sewa Alat Berat ke Jaksa

SINGKIL – Berkas perkara kasus penggelapan uang sewa alat berat yang menyeret Jon Iskandar, Kepala Bidang Peralatan di Dinas Pekerjaan Umum Aceh Singkil sebagai tersangka, dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri setempat. Polres Aceh Singkil hingga kini masih menahan tersangka Jon Iskandar dan belum menetapkan tersangka lainnya. Sedangkan pejabat yang telah diperiksa dengan setatus saksi, diantaranya Kepala Dinas PU, Mahyudin Desky, dan Fazli mantan Kepala Dinas PU yang dipecat Bupati Aceh Singkil Makmursyah Putra, karena diduga bermasalah.

“Berkas perkara tahap pertama sudah kita limpahkan ke Jaksa. Pejabat yang diperiksa setatusnya saksi kepala dinas PU dan mantan kepala Dinas PU,” kata Kapolres Aceh Singkil AKBP Helmi Kwarta, Kamis (25/3) di dampingi Waka Polres Kompol Boy Heriyanto. Menurut Wakapolres Aceh Singkil, keterangan tersangka dan saksi yang menyatakan ada uang yang disetor ke pejabat, masih harus dibuktikan. “Sejauh ini berdasarkan pengakuan salah seorang saksi, ada uang yang disetor melalui bank, kita akan minta bukti transfernya. Sementara pengakuan lain harus ada bukti,” ujar Boy.

Polisi juga masih terus melakukan audit jumlah kerugian dari sewa alat berat, beko, dam truk dan greder yang digelapkan tersangka. Disebutkan alat berat disewakan tersangka tanpa menggunakan mekanisme surat kontrak hingga ke Pakpak Barat, Sumatera Utara. “Penyidik selama ini belum menemukan kesulitan. Kerugian dari data kasar tidak sampai Rp 1 miliar,” sebut Boy.

Tak capai target
Mencuatnya kasus penggelapan alat berat Dinas PU bermula dari laporan hasil Pansus DPRK Aceh Singkil terhadap APBD tahun 2008 Januari lalu. Pansus menemukan sejumlah kejanggalan, dari begitu banyak alat berat dengan target PAD Rp 1 miliar, Dinas PU hanya mampu menyetor uang ke kas daerah kurang dari Rp 100 juta. Selain Dinas PU hampir semua instansi di daerah ini tidak mampu mencapai target PAD dengan alasan tidak jelas. Satu satunya instansi yang mendapat apresiasi karena mampu menyumbangkan PAD melebihi target adalah Bappeda. Serambi yang mencoba mengkonfirmasi menyangkut pencapaian target PAD ke Dinas Pengelolaan Keuangan & Kekayaan Daerah (DPKKD) Aceh Singkil, tidak berhasil. Nasjudin, Kepala DPKKD disebutkan stafnya sedang dinas luar dihubungi melalui nomor selulernya tidak diangkat.(c39)


Oknum Polisi Pukul Tiga Remaja

SINGKIL – Seorang oknum Polisi Lalulintas Pos Rimo, Gunung Meriah, Aceh Singkil, berinisial Don, Rabu (24/3), sekitar pukul 10.00 WIB, dilaporkan telah memukul tiga remaja dengan menggunakan helm. Akibat hantaman benda tumpul itu, salah satu dari tiga korban bagian kepalanya robek hingga mengelurkan darah. Ketiga korban, Yudiansyah (22), Asmar (22) dan Mirwan (21) warga, Dusun I, Desa Tanah Bara, Gunung Meriah. Korban yang bagian kepalanya berdarah, Yudiansyah, Kamis (25/3) pada Serambi mengatakan, kejadian terjadi saat ia mengendarai sepeda motor berboncengan tiga orang tanpa menggunakan helm.


Ketika melintas di dekat Pos Lalulintas Rimo, ditegur Don, karena tidak memakai helm. Mirwan yang bertindak sebagai pengendara mengaku menjawab, helmnya ketinggalan. Ternyata, anggota polisi itu marah dan terjadi pemukulan terhadap ketiga remaja tersebut. Sementara sumber lain menyebutkan, pemukulan tersebut terjadi, karena tiga remaja tersebut berusaha menghindar dari cegatan petugas. Naas bagi Yudiansyah yang duduk paling belakang, kepalanya dihantam hlm milik petugas dan mengeluarkan darah. “Kami bertiga dipukul pake helm, aku dan Mirwan tidak apa hanya sakit saja, tapi Yudiansyah sampai berdarah kepalanya,” kata Asmar.

Kapolers Aceh Singkil, AKBP Helmi Kwarta, yang dikonfrimasi kejadian tersebut menyatakan, akan memberi sanksi tegas terhadap anggotanya jika terbukti melakukan pemukulan. “Harus diperoses, polisi yang mukul masyarakat akan diperoses. Tidak pakai helm dan bonceng tiga juga salah, tapi mukul juga tak bisa dibenarkan,” ujar Helmi di dampingi Wakapolres Kompol Boy Heriyanto.(c39)


Bapedalda Singkil Klarifikasi PAD

1 April 2010, 10:09
Aceh Singkil
SINGKIL – Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda), Pertamanan dan Kebersihan Kabupaten Aceh Singkil, merupakan satu-satunya Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang berhasil lampaui target PAD pada tahun 2009 lalu. Hal itu dikatakan Marwan Madjid Kepala Bapedalda setempat, Selasa (30/3) sekaligus mengklarifikasi terkait pemberitaan Serambi, Bappeda satu satunya intasi yang mendapat apresiasi DPRK Aceh Singkil karena mampu menyumbangkan PAD melebihi target.

Menurut Marwan, yang mendapat apresiasi dari dewan adalah intansi yang dipimpinya, bukan Bappeda. “Memang agak mirip Bapedalda dengan Bappeda namanya. Tapi jangan salah yang mampu melampaui target PAD adalah Bapedalda yang dikatakan DPRK. Bukan kita takabur tapi itulah faktanya, untuk yang lain kita tidak tahu,” kata Marwan penuh semangat.

Disebutkan Bapedalda berhasil menyetor PAD melebihi target sebesar 15 persen atau Rp 230.174.365 dari target Rp 200 juta. Marwan menyatakan, memang ada beberapa item PAD 2009 yang baru disetor pada awal tahun 2010, seperti dari pengolahan limbah cair, sewa rumah dinas dan SP III. (c39)



Warga Minta Tanggul Pengaman Segera Dibangun

3 April 2010, 13:58
Aceh Singkil
SINGKIL – Warga Aceh Singkil yang tinggal di bantaran sungai dan bibir pantai, meminta pemerintah segera membangun tanggul pengaman. Hal ini untuk mengantisipasi musibah banjir musiman yang biasanya terjadi dua atau tiga tahun sekali di daerah tersebut. Sebagian besar wilayah Aceh Singkil, terletak di bibir pantai dan sungai besar, selama ini setiap air sungai meluap, atau pasang purnama, maka rumah penduduk selalu terendam. Sabar (55) warga Desa Kilangan, Kecamatan Singkil, kepada Serambi Jumat (2/4) mengatakan, setiap turun hujan, pasang purnama dan volume air sungai meningkat maka, rumahnya akan terendam.

Bahkan kalau banjir kiriman datang, air dapat menggenang sampai ke perumahan bantuan yang seharusnya aman dari banjir. “Banjir besar biasanya datang dua tahun sekali. Kami berharap pemerintah segera membangun tanggul pengaman banjir di pinggir sungai, sebelum musibah datang,”kata Sabar. Begitu juga dengan penduduk yang tinggal di pesisir pantai ketika pasang purnama air asin akan masuk ke rumah, bahkan merusak tanaman. “Akibat abrasi air laut yang naik selain menggenangi pemukiman juga merusak tanaman milik petani,” kata Adlimansyah warga Singkil Utara. Daerah rawan banjir di Aceh Singkil, antara lain, Kilangan, Siti Ambia, Perumahan Caritas, dan Pulau Sarok, Kecamatan Singkil. Kemudian Tanah Merah, Tanah Bara, Rimo, Handel, Cingkam dan Panjaitan, Gunung Meriah. Serta beberapa desa dalam Kecamatan Suro dan Simpang Kanan serta Singkil Utara.(c39)



Kondisi Jalan di Dua Kecamatan Memprihatinkan

5 April 2010, 09:01
Aceh Singkil
SINGKIL – Kondisi jalan di dua Kecamatan dalam wilayah Aceh Singkil masih memprihatinkan. Sebagian besar jalan berstuktur tanah, serta sejumlah jambatan darurat masih dijadikan sebagai sarana penghubung. Kedua kecamatan yang jalannya masih memprihatinkan adalah Kecamatan Singkohor dan Kota Baharu.

Pantauan Serambi, Minggu (4/4) jalan berstruktur tanah dan jembatan darurat, mulai terlihat mulai melewati wati Desa Bukit Harapan, kecamatan Gunung Meriah, menuju ibukota Singkohor atau dari Kota Baharu ke Singkohor. Padahal kedua kecamatan tersebut merupakan sentral perkebunan kelapa sawit rakyat maupun perusahaan.

“Apalagi kalau hujan, lebih parah jalannya. Keinginan masyarakat segera diaspal,” ujar Sukarta (34) warga Kota Baharu. Saat musim penghujan, jalan menuju dua kecamatan itu makin susah dilalui. Jalan berstruktur tanah akan berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilalui kendaraan roda dua maupun mobil. Akibat kondisi jalan dari Singkil Ibukota Kabupaten, menuju ibukota Kecamatan Kota Baharu, Lentong memerlukan waktu 2-3 jam dengan jarak sekitar 80 km, melalui Rimo. Begitu juga ke Singkohor menghabiskan waktu hampir sama dengan jarak sekira 75 km.

Belum diaspalnya jalan juga berimbas pada hubungan perdagangan warga kedua kecamatan itu. Warga Kota Baharu terpaksa tetap harus bergelut dengan licinnya jalan ketika berbelanja memenuhi kebutuhan sehari-hari ke Rimo. Sedangkan bagi penduduk Singkohor, sedikit bisa bernafas lega dalam urusan berbelanja keperluan hidup ke Subulussalam, mengingat akses jalan Singkohor dengan Subulussalam tergolong lebih baik, sebagian besar telah beraspal.(c39)



Minim, Tenaga Medis di Pulau Banyak

6 April 2010, 08:47

SINGKIL – Keberadaan tenaga medis dan sarana kesehatan sangat minim di Kecamatan Pulau Banyak, Aceh Singkil. Sehingga ada penduduk setempat yang sakit, terpaksa dibawa berobat Singkil atau ke Nias Sumatera Utara.

“Jika pasien dibawa ke Singkil jaraknya mencapai 26 mil atau 2-3 jam pelayaran dengan boat nelayan. Tapi kadang kala masyarakat juga ada yang membawa keluarganya berobat ke Nias Sumatera Utara,” ujar Nazran T, seorang warga Pulau Banyak kepada Serambi Senin kemarin. Tenaga medis yang ada sebatas manteri kesehatan dan bidan di Puskesmas Pulau Balai.

Menurut Nazran, dari 7 desa dalam wilayah Pulau Banyak, empat diantaranya sama sekali belum memiliki petugas kesehatan seperti bidan desa (Bides). Desa tersebut masing-masing, Teluk Nibung, Haloban, Suka Makmur dan Desa Ujung Sialek. “Tidak semua desa kosong, tapi yang fatal dokter tidak ada, kalau ada yang sakit tidak bisa dilakukan pertolongan pertama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Singkil, Sulaiman Malau, yang dikonfirmasi hal itu mengatakan, di Pulau Banyak sudah ditempatkan seorang dokter PTT, namun untuk bidan diakuinya masih kekuranga. “Sebenarnya sudah ada dokter PTT kriteria sangat terpencil dan tenaga bidan kita masih kekurangan formasi, untuk tahun depan kita usahakan,” kata Sulaiman.

Di Pulau Banyak baru ada satu Puskesmas yang terletak di ibukota kecamatan, Pulau Balai. Sedangkan puskesmas pembantu (Pustu) terdapat di tiga desa. Tenaga medis seperti bidan yang membuka praktek baru pada satu tempat. Permasalahan lainya, belum tersedia apotik atau toko obat. “Sekarang dokter memang lagi kosong,” kata Safrizal Tital, mantan anggota DPRK Aceh Singkil periode 2004-2009 asal Pulau Banyak.

Luas pulau banyak 135 Km atau 6,17 persen dari luas Kabupaten Aceh Singkil 2.187 Km, semua desa di Pulau Banyak, masuk katagori desa swadaya. Jarak dari ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten sekitar 26 mil laut. Sedangkan jumlah penduduk sekitar 7 ribu jiwa dan penyakit yang sering menyerang warga adalah penyakit khas kepulauan yakni, demam berdarah.(c39)

Aceh Singkil Partai SIRA Headline Animator

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Aceh Singkil Partai SIRA

↑ Grab this Headline Animator

Koleksi Lagu Aceh Perjuangan
Lagu RINDU by : Ridho Irama
Koleksi Lagu Cinta Aceh
Recaman Anak Durhaka jadi Binatang

Falcon Hive

PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN FULL
Sambunga Video lengkap.......
FILM LASKAR PELANGI LENGKAP
sambungan video....
Film Aceh Agen Badebah Full
Sambunga Video lengkap.......

About Me

My Photo
anak pesisir Pantai barat Aceh singkil bercita-cita mendapatkan kapal tengker untuk kemajuan aceh...

news

Loading...
Custom Search

ShoutMix chat widget

featured-content

featured-content

INGAT WAKTU SHOLAT

featured-content

VIDEO KAMPAYE SIRA SINGKIL 2009